Tangisan Bukan Masalah: Bahasa yang Anak Gunakan Sebelum Bisa Bercerita
Pernahkah orang tua merasa bingung ketika anak tiba-tiba menangis tanpa sebab yang
jelas? Kadang tangisan datang saat kita baru menyiapkan makanan, saat ingin berangkat sekolah,
atau bahkan di tengah permainan yang tampak menyenangkan. Bagi sebagian orang tua, tangisan
terasa seperti “masalah” tanda bahwa anak sedang rewel atau tidak kooperatif. Namun, bagi anak
dengan spektrum autisme, tangisan sering kali bukan sekadar ekspresi emosi, melainkan bahasa
awal yang mereka gunakan sebelum mampu bercerita dengan kata-kata.
Dalam perkembangannya, anak-anak umumnya menggunakan tangisan sebagai cara
pertama untuk berkomunikasi sejak bayi. Namun, pada anak dengan autisme, fase penggunaan
tangisan bisa bertahan lebih lama dan muncul dalam konteks yang berbeda. Mereka mungkin
menangis ketika kewalahan dengan suara keras, ketika rutinitas berubah, atau ketika tidak
mampu mengungkapkan keinginan dengan bahasa verbal.
Penelitian dari Journal of Autism and Developmental Disorders (2020) menemukan
bahwa anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) menunjukkan pola tangisan yang
berbeda secara akustik dibandingkan anak tipikal baik dalam intensitas maupun frekuensinya.
Hal ini menunjukkan bahwa tangisan bukan hanya reaksi emosional spontan, tetapi bagian dari
mekanisme komunikasi non-verbal yang sangat penting (Sheinkopf et al., 2020). Dengan kata
lain, ketika seorang anak autis menangis, ia sedang berusaha “berbicara” dengan cara yang ia
mampu.
Mengapa Anak Autis Lebih Sering Berkomunikasi Lewat Tangisan?
Untuk memahami alasan di balik tangisan yang sering muncul, kita perlu melihat dari
berbagai aspek perkembangan anak autis mulai dari sensorik, bahasa, hingga regulasi emosi.
1. Sensitivitas sensorik
Anak autis sering memiliki kepekaan tinggi terhadap suara, cahaya, sentuhan, atau tekstur
tertentu. Misalnya, suara piring yang beradu di meja makan, bunyi vacuum cleaner, atau
sentuhan pakaian dengan label di leher bisa terasa sangat mengganggu bagi mereka.
Menurut penelitian oleh Tomchek & Dunn (2007), sekitar 95% anak dengan autisme
menunjukkan perbedaan dalam pemrosesan sensorik, sehingga respon tangisan bisa
menjadi cara mereka mengekspresikan rasa tidak nyaman terhadap lingkungan.
2. Keterbatasan bahasa ekspresif
Sebagian anak dengan autisme memiliki keterlambatan bicara atau kesulitan menyusun
kalimat untuk menyampaikan emosi. Tangisan menjadi “bahasa cadangan” untuk
menyampaikan pesan seperti lapar, lelah, atau frustrasi. Dalam studi oleh Hudry et al.
(2010), ditemukan bahwa keterlambatan bahasa pada anak autis sering berkaitan erat
dengan peningkatan perilaku non-verbal seperti menangis, berteriak, atau menarik tangan
orang tua untuk menunjukkan kebutuhan.
3. Kesulitan regulasi emosi
Mengatur emosi adalah tantangan besar bagi banyak anak dalam spektrum autisme.
Ketika mereka merasa kewalahan oleh rangsangan eksternal atau situasi sosial, sistem
saraf mereka bisa dengan cepat “meluap”, menghasilkan tangisan sebagai bentuk
pelepasan.
Jadi, tangisan bukan tanda kelemahan atau kenakalan, tetapi permintaan tolong dalam bentuk
lain.Banyak orang tua merasa tidak berdaya saat menghadapi tangisan tanpa makna yang jelas.
Padahal, di balik setiap tangisan selalu ada pola yang bisa dipahami. Salah satu pendekatan
yang efektif adalah dengan mencatat konteks di mana tangisan terjadi:
? Apakah muncul setelah suara keras?
? Setelah rutinitas berubah?
? Ketika anak diminta melakukan sesuatu yang sulit?
? Atau saat anak tampak kelelahan?
Mencatat situasi ini membantu orang tua mengenali pola pemicu emosional anak.
Misalnya, jika anak sering menangis setiap kali ada perubahan mendadak, itu berarti ia butuh
waktu transisi yang lebih lembut. Jika tangisan muncul saat suasana ramai, anak mungkin
memerlukan quiet corner atau ruang tenang untuk menenangkan diri. Selain itu, penting juga
bagi orang tua untuk menggunakan pendekatan komunikasi alternatif, seperti Visual support
(gambar, kartu emosi, atau papan komunikasi), gestur atau isyarat sederhana untuk menunjukkan
keinginan atau tone suara lembut dan konsisten agar anak merasa aman.
Setelah orang tua mulai memahami bahwa tangisan adalah bentuk komunikasi, langkah
berikutnya adalah mengajarkan anak cara lain untuk menyalurkan emosinya. Salah satu strategi
efektif adalah mengembangkan kemampuan regulasi diri (self-regulation). Menurut penelitian
yang diterbitkan oleh Frontiers in Psychology (2022), latihan-latihan seperti pernapasan
sederhana, aktivitas berirama (seperti menepuk tangan atau menari pelan), dan kegiatan seni
dapat membantu anak autis menstabilkan emosi dan menurunkan intensitas tangisan. Selain itu,
membangun rasa aman dan rutinitas yang teratur juga berperan besar. Anak autis merasa lebih
tenang ketika tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Menggunakan jadwal visual atau struktur
aktivitas yang konsisten bisa mengurangi kecemasan yang sering memicu tangisan.
Orang tua juga bisa menggunakan pendekatan berbasis karakter membantu anak
mengenali dan menamai emosinya. Misalnya, dengan berkata, “Kamu sedih ya karena
mainannya rusak? Yuk kita atur napas dulu.” Kalimat sederhana seperti itu membantu anak
belajar bahwa emosi bisa dikenali dan diatur, bukan ditakuti.
Di beberapa tempat belajar anak seperti Kids Coaching, pendekatan semacam ini
dikembangkan secara alami melalui permainan, musik, dan kegiatan sehari-hari. Anak tidak
hanya diajak tenang, tapi juga belajar mengenali makna di balik setiap emosi yang mereka
rasakan. Tanpa disadari, proses kecil seperti ini membentuk pondasi besar anak belajar
memahami dirinya sebelum belajar memahami dunia.
Tangisan hanyalah awal. Setiap kali anak menangis, ia sedang mencoba memberi tahu
sesuatu. Dalam perjalanan ini, tak ada peta yang pasti. Setiap anak autis memiliki irama dan
dunianya sendiri. Namun, yang pasti, anak akan selalu merespons cinta yang konsisten. Dengan
dukungan profesional dan komunitas yang memahami, orang tua tidak perlu berjalan sendirian.
Pendampingan yang tepat dapat membantu menemukan pola emosi anak, mengenali pemicunya,
dan membangun strategi kecil yang membuat hari-hari lebih ringan dan penuh makna. Pada
akhirnya, memahami tangisan bukan tentang menghentikannya, tapi tentang mendengarkan
dengan cara baru karena di balik setiap tangisan, ada cerita kecil yang menunggu untuk
dipahami.