Cara Memahami dan Menjadi Lebih Dekat dengan Anak Dengan autisme: Dimulai dari Mendengar dan Mengenal
Pernahkah kamu mencoba menyapa anak dengan autisme, namun mereka malah pergi atau
tidak menanggapi? Jika iya, jangan berkecil hati. Itu adalah hal yang wajar, terutama ketika kita
masih menjadi sosok baru dalam hidup mereka. Anak dengan autisme sering membutuhkan
waktu lebih lama untuk merasa aman dan nyaman di sekitar orang lain.
Kabar baiknya, ada cara agar kita bisa lebih dekat dengan mereka. Langkah demi langkah,
dimulai dari mendengar dan mengenal.
Langkah Pertama: Mendengar dengan Hati
Hal paling mendasar untuk membangun kedekatan dengan anak dengan autisme adalah hadir
dan mendengarkan mereka. Mendengar di sini bukan hanya tentang kata-kata yang diucapkan,
tapi juga memperhatikan ekspresi wajah, gerakan tubuh, atau suara kecil yang mereka
keluarkan.
Kadang kita mungkin tidak mengerti apa yang mereka katakan, tapi kehadiran kita yang penuh
perhatian dapat menjadi tanda bahwa mereka didengar dan diterima. Gunakan ekspresi wajah
lembut dan suara yang tenang, validasi perasaan mereka melalui kalimat sederhana seperti:
“Kamu kelihatan senang, ya?”
“Sepertinya kamu sedang marah, boleh Coach tahu kenapa?”
Pendekatan ini membantu anak merasa aman, dan rasa aman adalah dasar dari semua
hubungan yang kuat.
Langkah Kedua: Mulai Mengenal “Temukan Dunia Mereka”
Ketika anak mulai menerima kehadiran kita, perlahan ajak mereka dalam obrolan ringan atau
aktivitas sederhana. Bicarakan hal-hal yang mereka sukai, seperti hewan, musik, menggambar,
atau mainan favorit.
Misalnya:
“Aku dengar kamu suka dinosaurus, ya?”
“Warna biru ini cantik sekali, kamu suka warna biru?”
Melalui hal-hal kecil seperti ini, kita menunjukkan bahwa kita peduli pada dunia mereka dan
itulah langkah awal untuk membangun koneksi emosional yang lebih dalam.
Memahami Melalui Refleksi dan Empati
Setiap interaksi dengan anak dengan autisme bisa menjadi kesempatan untuk belajar.
Luangkan waktu untuk merefleksikan pengalamanmu, misalnya dengan bertanya pada diri
sendiri:
? Apa yang saya pelajari dari mendampingi anak hari ini?
? Apa yang anak ini sukai dan tidak sukai?
? Bagaimana cara saya bisa membuat anak lebih nyaman?
? Apa yang anak coba sampaikan lewat gesture tubuhnya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membantu kita membangun empati dan memahami anak
dari perspektif mereka. Dengan begitu, kita tidak hanya “mengajarkan”, tapi juga tumbuh
bersama mereka.
Konsistensi dan Kesabaran Adalah Kunci
Tidak ada hubungan yang terbentuk dalam semalam. Proses mendekati dan memahami anak
dengan autisme membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Akan ada saat di mana mereka
terlihat menolak, tantrum, atau tidak ingin berinteraksi. Itu bukan kegagalan, itu bagian dari
proses adaptasi. Yang penting adalah kita tetap hadir, tetap tenang, dan terus berusaha
menjadi sosok yang menghadirkan rasa aman bagi mereka. Ingat, bahkan ketika mereka tampak
tidak peduli, mereka tetap merasakan energi dan ketulusan kita.
Kesimpulan: Dekat Karena Mau Mendengar dan Mengenal
Dalam perjalanan menjadi lebih dekat dengan anak dengan autisme, kita akan menghadapi
banyak tantangan. Namun setiap langkah sekecil apapun adalah bentuk cinta dan kepedulian.
Kita tidak bisa memahami sesuatu yang tidak pernah kita berikan waktu untuk pahami, dan kita
tidak akan bisa dekat pada sesuatu yang tidak pernah kita coba dengarkan dan kenal. Jadi,
mulailah dengan mendengar, mengenal, lalu memahami. Dari sanalah hubungan sejati tumbuh
perlahan, tapi dengan makna yang dalam.