Terapi Sensori Motorik Bantu Danny, Klien ASD Mengontrol Gerak Tubuhnya

Danny (bukan nama sebenarnya) baru menginjak usia 6 tahun ketika ia pertama kali datang bersama ibunya ke Centre Kids Coaching. Wajahnya terus menampakkan senyum, tapi jarang melakukan kontak mata dan terkadang terlihat berada di dunianya sendiri. Dengan stimming di tangan dan jari-jarinya, Danny tidak dapat duduk tenang atau berdiam diri lebih dari 30 detik di satu tempat. Dia lebih suka berlari dari satu tempat ke tempat lain, sangat aktif. Danny pun nonverbal, belum dapat berkata-kata selain mengeluarkan suara bergumam yang terdengar lirih.

Ibunya menyampaikan kepada Kids Coaching (KC) bahwa hasil diagnosa dokter menyimpulkan bahwa Danny termasuk dalam kategori ASD (Autism Spectrum Disorder). Lalu bersama ibunya, KC menyusun rencana pemulihan dan target yang ingin dicapai untuk perkembangan Danny dalam sebuah Program Pembelajaran Individu (PPI).

Kebutuhan Danny sangat kompleks, karena itu KC membentuk tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, seperti psikologi, fisioterapi, sendamusik, sampai ketrampilan ARTS. Tim juga menyelaraskan PPI Danny dengan Learning Pyramid yang dirancang oleh Williams & Shellenberger (1996), dimana pembenahan sensori motorik yang dikombinasikan dengan terapi perilaku menjadi prioritas utama bagi Danny.

Dengan terapi sensori motorik yang dilakukan secara konsisten, Danny secara perlahan mulai dapat mengontrol gerakan tubuhnya dan menjadi tuan atas setiap gerakan wajah, badan, tangan serta kakinya. Dengan kemampuannya ini, maka kepercayaan diri Danny pun semakin bertambah. Danny semakin fokus, dapat duduk tenang dan mulai tertarik belajar hal baru. Terlebih teknik pengajaran yang dibawa oleh para coach adalah play therapy, dimana Danny merasa tidak sedang belajar, tetapi melakukan permainan yang menyenangkan. 

Tentu saja ada saat-saat yang membawa challenge tersendiri bagi para coach. Misalnya, ketika Danny diajak bermain dengan siswa-siswi yang lain. Ada suatu saat, Danny menolak untuk melakukan kegiatan yang diminta. Coach yang jeli, memahami kondisi Danny saat itu bahwa bukannya Danny tidak tertarik dengan kegiatan tersebut, tapi dia merasa minder dan takut kalau gagal, tidak dapat melakukannya seperti siswa- siswi yang lain. Yang dilakukan coach saat itu adalah mendekati Danny dan membisikkan, “Danny tidak perlu minder untuk mencoba. Nanti kalau tidak bisa, coach akan bantu.” Setelah mendengar itu, Danny pun kembali bersedia melakukan kegiatan bersama.

Dari situ coach mempelajari bahwa bila si buah hati sedang tidak mau melakukan sesuatu, jangan langsung dimarahi. Terkadang, mereka punya alasan yang “logis” (setidaknya bagi mereka). Dan kita pun harus yakin bahwa mereka mampu memahami alasan “logis” kita, jika diutarakan dengan semangat kasih.

image
image